Skip to content

My Blog

My WordPress Blog

Menu
  • Sample Page
Menu
KPI Utama (OTIF, Lead Time, Inventory Turnover, dll.)

KPI Supply Chain: Ukuran yang Menjamin Proses Logistik Tetap Lancar

Posted on January 2, 2026

Ukuran Supply Chain yang Harus Dipakai Perusahaan agar Operasi Tetap Lancar

KPI Utama (OTIF, Lead Time, Inventory Turnover, dll.)

Supply chain menjadi tulang punggung operasional perusahaan. Tanpa alur logistik yang rapi, bisnis akan kehilangan pelanggan, mengalami overstock, terhambat produksi, dan menanggung biaya tinggi. Agar rantai pasok tetap stabil, perusahaan membutuhkan KPI supply chain yang tepat. KPI ini mengukur kinerja dari ujung ke ujung—mulai pengadaan hingga distribusi.

KPI supply chain berfungsi sebagai indikator kesehatan proses logistik. Jika KPI berada di bawah target, perusahaan dapat mengetahui penyebabnya lebih cepat. Ketika KPI berada di atas target, perusahaan bisa mempertahankan strategi yang terbukti efektif. Artikel ini membahas tantangan supply chain, KPI utama yang wajib dipakai, cara monitoring cepat, dan strategi efisiensi yang membuat rantai pasok lebih tangguh.

Tantangan Supply Chain
Supply chain modern menghadapi tekanan yang tidak kecil. Perusahaan harus bergerak cepat, responsif, dan tetap efisien. Namun, kenyataannya banyak hambatan muncul di setiap titik proses.

Berikut beberapa tantangan besar yang sering ditemui:

  1. Ketidakpastian permintaan
    Perubahan permintaan pelanggan membuat perencanaan inventory sulit dilakukan. Tanpa KPI yang tepat, perusahaan kesulitan memprediksi kebutuhan stok.
  2. Lead time pemasok yang tidak stabil
    Supplier yang terlambat mengirim barang dapat menghambat produksi dan mengacaukan jadwal distribusi.
  3. Biaya logistik yang terus meningkat
    Biaya transportasi, pergudangan, dan pengelolaan inventaris sering membengkak jika monitoring tidak dilakukan dengan disiplin.
  4. Manajemen inventory yang tidak optimal
    Banyak perusahaan mengalami kelebihan stok atau kekurangan stok karena tidak memantau perputaran barang.
  5. Kurangnya visibilitas end-to-end
    Tanpa sistem pelacakan yang baik, perusahaan tidak bisa mengetahui hambatan di setiap titik rantai pasok.
  6. Koordinasi internal yang lemah
    Supply chain melibatkan banyak divisi. Koordinasi lambat membuat proses semakin panjang dan tidak efisien.

KPI supply chain membantu perusahaan menjawab semua tantangan tersebut dengan memberikan ukuran objektif dan dapat diandalkan.

KPI Utama (OTIF, Lead Time, Inventory Turnover, dll.)
Beberapa indikator supply chain menjadi standar internasional karena terbukti membantu perusahaan mencapai efisiensi. Berikut KPI utama yang wajib digunakan perusahaan modern.

  1. OTIF (On Time In Full)
    OTIF mengukur seberapa sering perusahaan berhasil mengirim barang kepada pelanggan tepat waktu dan sesuai pesanan.

Rumus:
OTIF = (Jumlah pesanan yang terkirim tepat waktu & lengkap ÷ total pesanan) × 100%

OTIF yang tinggi meningkatkan kepercayaan pelanggan dan menunjukkan kualitas proses distribusi.

  1. Lead Time
    Lead time adalah waktu yang dibutuhkan dari permintaan pesanan hingga barang diterima pelanggan. KPI ini menjadi indikator kecepatan supply chain.

Jenis Lead Time:

  • Supplier lead time
  • Manufacturing lead time
  • Delivery lead time

Lead time yang panjang sering menunjukkan proses internal yang tidak efisien.

  1. Inventory Turnover
    Inventory turnover mengukur seberapa cepat barang bergerak dalam gudang.

Rumus:
Inventory Turnover = Harga pokok penjualan ÷ rata-rata persediaan

Turnover rendah berarti stok menumpuk dan menambah biaya penyimpanan.

  1. Fill Rate
    Fill rate menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi permintaan pelanggan dari stok yang tersedia.

Fill rate rendah membuat pelanggan tidak puas dan beralih ke kompetitor.

  1. Order Cycle Time
    KPI ini mengukur seberapa cepat perusahaan memproses pesanan sejak diterima hingga dikirim.

Order cycle time yang pendek menunjukkan operasi yang lincah.

  1. Perfect Order Rate
    Indikator ini mengukur jumlah pesanan yang diterima pelanggan tanpa kesalahan, tanpa kerusakan, dan tanpa penundaan.

Perfect order rate yang tinggi memperlihatkan kualitas handling yang baik.

  1. Freight Cost per Unit
    KPI ini menghitung biaya pengiriman per satuan produk. Semakin rendah biaya, semakin efisien supply chain perusahaan.
  2. Forecast Accuracy
    Akurasi peramalan permintaan menjadi kunci agar inventory tetap seimbang. KPI ini menilai seberapa tepat forecast dibanding permintaan aktual.

KPI supply chain saling terhubung. Jika lead time turun, inventory turnover membaik. Jika OTIF naik, pelanggan puas. Itulah alasan perusahaan harus menggunakan KPI secara terpadu.

Cara Monitoring
Perusahaan sering kesulitan memonitor KPI supply chain karena datanya tersebar di banyak titik. Cara monitoring berikut membantu proses menjadi lebih cepat dan efisien.

  1. Gunakan dashboard real-time
    Dashboard membuat seluruh KPI terlihat dalam satu layar. Manajer supply chain bisa memantau performa tanpa membuka banyak laporan.

Tools populer:

  • Power BI
  • Tableau
  • Looker Studio
  • SAP Supply Chain
  • Oracle SCM Cloud
  1. Integrasikan data dari seluruh divisi
    Supply chain hanya dapat dipantau dengan baik jika data pembelian, produksi, dan distribusi terhubung. Sistem ERP sangat membantu proses ini.
  2. Gunakan alert otomatis
    Alert membuat tim mengetahui jika KPI melewati batas toleransi. Misalnya: jika OTIF turun di bawah 85%, sistem memberi notifikasi.
  3. Lakukan review mingguan untuk KPI kritis
    Walaupun KPI dievaluasi bulanan, beberapa indikator seperti lead time dan fill rate perlu dipantau lebih sering.
  4. Simpan histori tren
    Monitoring tidak cukup melihat data satu bulan. Tren 3–12 bulan memberi gambaran apakah KPI membaik secara konsisten.
  5. Potong proses manual
    Spreadsheet manual sering memakan waktu. Gunakan automation seperti:
  • Zapier
  • Make.com
  • Integrasi API sistem internal

Monitoring menjadi lebih cepat dan risiko human error berkurang.

Strategi Efisiensi
KPI supply chain baru memberikan manfaat jika diikuti dengan strategi efisiensi yang konkret. Berikut langkah-langkah yang terbukti efektif di banyak perusahaan:

  1. Optimalkan hubungan dengan pemasok
    Negosiasi lead time, kontrak fleksibel, dan komunikasi rutin mempercepat proses pengadaan material.
  2. Terapkan safety stock yang tepat
    Hitung safety stock berdasarkan data permintaan, lead time, dan deviasi. Cara ini mencegah stockout dan overstock.
  3. Gunakan metode lean management
    Lean membantu menghilangkan proses tidak perlu. Hasilnya, supply chain menjadi lebih cepat dan hemat biaya.
  4. Perbaiki layout gudang
    Gudang yang rapi mengurangi waktu picking dan meningkatkan akurasi pengiriman.
  5. Manfaatkan teknologi IoT dan barcode
    Teknologi memudahkan pelacakan barang secara real time, meningkatkan OTIF dan perfect order rate.
  6. Lakukan demand forecasting berbasis data
    Gunakan machine learning atau sistem ERP untuk memprediksi permintaan dengan lebih akurat.
  7. Gunakan sistem rute transportasi yang efisien
    Optimasi rute menurunkan biaya pengiriman dan mempercepat pengiriman ke pelanggan.
  8. Latih tim supply chain secara berkala
    Pelatihan membuat tim memahami KPI, prosedur, dan cara menghindari kesalahan operasional.
  9. Lakukan evaluasi performa pemasok
    Supplier yang tidak konsisten menurunkan OTIF dan meningkatkan risiko keterlambatan produksi.

Strategi efisiensi supply chain membutuhkan komitmen dan monitoring terus-menerus. Dengan KPI yang tepat, langkah perbaikan dapat dilakukan dengan akurat.

Penutup
KPI supply chain menjadi fondasi untuk memastikan proses logistik berjalan lancar dan efisien. Indikator seperti OTIF, lead time, fill rate, dan inventory turnover membantu perusahaan memahami kualitas rantai pasok dari hulu hingga hilir. Monitoring yang baik dan strategi efisiensi membuat segala proses semakin cepat, hemat biaya, dan responsif terhadap permintaan pasar.

Perusahaan yang menerapkan KPI supply chain dengan benar tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga meningkatkan kepuasan pelanggan. Dengan pendekatan yang tepat, supply chain menjadi lebih kuat dan mampu menghadapi perubahan lingkungan bisnis.

Ingin menerapkan KPI yang tepat untuk meningkatkan kinerja dan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan? Klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial yang siap membantu strategi bisnis Anda.

Referensi

  • Christopher, M. (2016). Logistics & Supply Chain Management. Pearson.
  • Ballou, R. H. (2004). Business Logistics Management. Pearson Education.
  • McKinsey & Company, Supply Chain Insights, 2021–2024.
  • Gartner: Supply Chain KPI Benchmarking Reports, 2022–2024.
  • Harvard Business Review – Articles on Supply Chain Resilience (2019–2023).

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • 5 KPI Produktivitas untuk Mengukur Performa Tim Secara Akurat
  • KPI Supply Chain: Ukuran yang Menjamin Proses Logistik Tetap Lancar
  • Cara Mengevaluasi KPI Bulanan Tanpa Menghabiskan Banyak Waktu
  • KPI yang Wajib Diketahui Manajer Baru agar Tidak Tersesat
  • KPI untuk Customer Service agar Tingkat Kepuasan Naik Drastis

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025

Categories

  • key performance indicator
  • pelatihan
  • soft skill
  • strategi
  • training
  • Uncategorized
©2026 My Blog | Design: Newspaperly WordPress Theme